PANGKALPINANG, REDAKSIBERITA – Dikenal sebagai sosok visioner Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan yang juga sosok hobbi lingkungan dan pertanian, menggunakan bahan baku sisa hasil pembakaran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berhasil membina warga binaan untuk menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi.
Inisiatif cerdas ini sebelumnya sudah diminati sejumlah perkebunan di tiga kabupaten di Pulau Bangka, dan diimplementasikan di perkebunan Program Kelurahan Binaan Tua Tunu Indah seluas 2,2 hektar berisikan tanaman kelapa sawit dan nanas.
Kegiatan implementasi penggunaan pupuk hasil olahan tersebut dibuka langsung Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Ade Agustina serta unsur Forum Koordinasi Kecamatan (Forkopimcam) setempat.
Ade Agustina memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Sugeng Indrawan. Menurutnya, kemampuan kalapas melihat peluang dan nilai guna dari sesuatu yang selama ini dianggap sampah atau tidak berguna, membuktikan kualitas kepemimpinan yang tidak hanya piawai di tataran kebijakan, tetapi juga andal mewujudkan hasil nyata di lapangan.
“Pak Sugeng Indrawan ini adalah senior saya. Memang beda jika kita bekerja dengan sosok senior, berpikirnya jauh ke depan dan sangat visioner. Sisa pembakaran atau residu PLTU yang mungkin orang lain anggap tidak bermanfaat, oleh kalapas dijadikan sesuatu yang sangat berguna, ini sangat luar biasa,” ujar Ade Agustina, pada Jum’at (15/5/2026).

Lanjutnya kegiatan ini bukan sekadar proyek sesaat, melainkan wujud kolaborasi strategis berkelanjutan antara Lapas Pangkalpinang dengan pihak kelurahan dan perangkat desa. Kerja sama ini menjadikan program desa/ kelurahan binaan dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat.
“Dulu kita banyak bicara soal ketahanan pangan, namun hari ini kita sudah melangkah jauh menuju swasembada pangan. Artinya, kita tidak hanya bertahan untuk mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi hasilnya sudah dimanfaatkan untuk kemajuan desa ini, bahkan jangkauannya bisa meluas hingga ke desa-desa lain,” jelasnya.
Ade Agustina menekankan bahwa inovasi pengolahan limbah menjadi pupuk ini sangat selaras dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Program ini masuk dalam cakupan 15 Akselerasi Kementerian yang dirancang untuk mendukung visi pembangunan nasional Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
Pemerintah pusat menginginkan setiap program tidak berhenti sebagai wacana, melainkan ada bukti implementasi yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat.






