Lapas Pangkalpinang Perkuat Kemandirian Warga Binaan Lewat Budidaya Magot Bernilai Ekonomi

Kegiatan budidaya Magot ini merupakan bentuk pengabdian peserta magang, Elisa Ratri Kristiyani yang merupakan lulusan Peternakan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta. (Foto: Ist/ Humas Lapas//)

PANGKALPINANG, REDAKSIBERITA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang terus membekali warga binaan dengan memperkuat pembinaan kemandirian.

Hal ini dibuktikan dari keberhasilan panen budidaya Magot bernilai ekonomi. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian peserta magang, Elisa Ratri Kristiyani yang merupakan lulusan Peternakan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta, yang melatih warga binaan mulai dari penetasan tiga gram telur, hingga menghasilkan produk Magot dalam waktu sekitar 18 hari.

Bacaan Lainnya

Kepala Lapas Pangkalpinang, Sugeng Indrawan menyampaikan bahwa program ramah lingkungan melalui penguraian limbah sampah organik ini tidak hanya berfokus pada panen Magot, tetapi juga pengembangan produk turunan bernilai tambah.

Magot akan diolah menjadi Magot crispy sebagai pakan ternak, sementara sisa media dimanfaatkan dan diuji coba sebagai pupuk organik.

“Kami berharap dari budidaya Magot ini lahir berbagai produk turunan yang dapat dibudidayakan oleh warga binaan sebagai bekal usaha saat mereka bebas nanti,” ujar Sugeng, pada Senin (16/2/2026).

Sama halnya diungkapkan Kepala Sub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja, Eko Cahyono menyampaikan budidaya magot merupakan bentuk pembinaan keterampilan yang aplikatif dan mudah diterapkan.

Menurutnya, pemanfaatan limbah organik menjadi pakan ternak alternatif dan pupuk organik, memberikan nilai ekonomi sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

“Kegiatan ini mengajarkan bahwa limbah jangan dilihat sebagai masalah saja, akan tetapi ada peluang yang dapat diolah menjadi produk bernilai,” jelas Eko.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *