REDAKSIBERITA – Perkebunan kelapa sawit milik seorang warga Desa Penyak, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mati secara perlahan akibat kawasan tersebut masuk air laut dan limbah tambak udang.
Sehingga pohon kelapa sawit yang tadinya tumbuh hijau, lambat laun mengering dan akhirnya mati. Akibatnya, H Sahroni harus mengalami kerugian sebesar Rp 60 juta perbulan, karena pohon sawit tidak berbuah dan mati.
Kondisi ini diakui H Sahroni sudah berlangsung selama satu tahun, setelah sebuah perusahaan tambak udang masuk ke wilayah perkebunannya tersebut.
“Ini sudah satu tahun berlangsung, saya sudah pernah bertemu dengan pihak perusahaan tapi katanya tidak mau ganti rugi atau membeli lahan dan perkebunan saya ini. Sedangkan yang lain sama seperti ini sudah diganti rugi atau dibeli perusahaan bernama PT Utomo itu,” ujar H Sahroni kepada awak media, pada Sabtu, 14 Desember 2024 kemarin.
“Sejak air laut masuk dan limbah tambak dibuang ke aliran itu, semua air diperkebunan saya ini terasa asin, dan kelapa sawit saya seluas 26 hektar ini pun berangsur mati,” paparnya.
H Sahroni mengatakan perkebunan kelapa sawit nya dibagian lain pun terancam akan mati, akibat aktivitas perusahaan tambak udang tersebut.
“Ini yang sebagian lagi pun bakal mengalami hal yang sama, mulai kering. Padahal yang itu baru beberapa tahun dan mulai berbuah pun akan mati jika seperti ini terus,” sesalnya.
H Sahroni berharap ada itikad baik dari pemilik perusahaan, dengan memberikan ganti rugi atau membeli lahan perkebunannya tersebut, sehingga tidak ada yang dirugikan kedepannya.
“Pemiliknya sudah saya temui satu kali, katanya nggak mau ganti rugi atau beli, kalau dibiarkan seperti ini terus saya yang rugi, tidak sedikit uang habis disini,” terang H Sahroni.





