Prof Saparudin: Evaluasi Pelayanan Publik Kunci Perbaikan Berkelanjutan

Wali Kota Pangkalpinang Prof Saparudin ketika membuka kegiatan pemantauan dan evaluasi pelayanan publik di ruang Balai Betason. (Foto: Ist/ RedaksiBerita//)

PANGKALPINANG, REDAKSIBERITA -Wali Kota Pangkalpinang, Prof Saparudin menegaskan bahwa pemantauan dan evaluasi merupakan bagian tak terpisahkan dari siklus penyelenggaraan pelayanan publik.

Menurutnya, proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi harus berjalan berulang dan terus ditingkatkan agar mutu layanan kepada masyarakat semakin optimal.

Bacaan Lainnya

“Pelayanan publik itu memiliki siklus yang utuh: mulai dari merencanakan, melaksanakan, lalu mengevaluasi. Evaluasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan untuk memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pada tahap berikutnya. Inilah yang menjadikan sistem pelayanan terus berkembang,” ujarnya dalam pertemuan evaluasi kinerja pelayanan publik di ruang Balai Betason Kota Pangkalpinang, Kamis (25/6/2026).

Evaluasi sebagai Instrumen Pengukuran Resmi

Wali Kota menjelaskan bahwa pemantauan dan evaluasi kinerja pelayanan publik merupakan instrumen resmi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Alat ini digunakan untuk mengukur, menilai, dan meningkatkan kualitas layanan di seluruh instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lingkungan Pemerintah Kota Pangkalpinang.

“Selama ini masih ditemukan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlambat menyampaikan laporan evaluasi, isinya belum lengkap, bahkan ada yang disusun secara asal-asalan. Padahal tanpa data yang jelas, kita tidak bisa tahu di mana letak kekurangan kita,” tegasnya.

Meskipun demikian, ia menyampaikan rasa syukur setelah menerima hasil penilaian dari Ombudsman Republik Indonesia yang menyatakan kinerja pelayanan publik di Pangkalpinang masuk kategori Baik dengan nilai 85,02. Namun, ia menegaskan pencapaian ini tidak boleh membuat pihaknya berpuas diri.

“Kalau dalam dunia pendidikan, nilai 85 itu sebenarnya masih di batas bawah. Kita tidak boleh merasa cukup. Nilai ini harus menjadi pemicu untuk berusaha mencapai hasil yang lebih tinggi lagi,” ujarnya dengan nada santai namun tegas.

Terima Masukan, Jangan “Baper”

Prof Saparudin mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk bersikap objektif dalam menilai kinerja sendiri maupun menerima masukan dari luar. Ia menekankan bahwa kekurangan harus diakui agar bisa diperbaiki, dan tidak perlu tersinggung jika mendapatkan kritik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *