PANGKALPINANG, REDAKSIBERITA – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang terdiri dari dua pulau besar yakni Bangka dan Belitung, juga memiliki ratusan pulau kecil lainnya dikelilingi Perairan.
Oleh karena itu, konflik antara manusia dan buaya tidak bisa dihindarkan, apalagi kondisi lingkungan di beberapa wilayah Babel saat ini yang menjadi habitat predator air ini rusak akibat aktivitas pertambangan.
Berdasarkan data yang dimiliki Kantor Search and Rescue (SAR) Pangkalpinang, terhitung pada tahun 2024 lalu setidaknya ada 10 peristiwa konflik antara manusia dan buaya di seluruh wilayah Babel.
“Di tahun lalu ada 10 permintaan pelayanan pencarian akibat konflik ini,” kata Kepala Kantor SAR Pangkalpinang, I Made Oka Astawa kepada media ini, Senin (3/2/2025).
“Dan di tahun ini terhitung awal Januari lalu hingga hari ini, ada tiga peristiwa pertama di Bangka, kedua di Belitung dan kemarin di Pangkalpinang,” ujarnya.
Menanggapi seringnya kejadian konflik antara manusia dan buaya ini, maka Kantor SAR Pangkalpinang bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten/ kota dan provinsi untuk memberikan himbauan dan sosialisasi kepada masyarakat.
Selain itu, memberikan tanda atau petunjuk tempat ataupun titik lokasi wilayah adanya buaya.






