PANGKALPINANG, REDAKSIBERITA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyebutkan aktivitas industri ekstraktif telah menyebabkan krisis multidimensi di kepulauan ini.
Hal itu dimulai dari kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi hingga krisis ruang hidup bagi masyarakat.
Demikian dikatakan Direktur Eksekutif WALHI Babel Ahmad Subhan Hafiz yang mengatakan bahwa buruknya tata kelola pertambangan timah, telah menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan lingkungan hidup yang baik dan sehat di Babel.
Tercatat Babel telah kehilangan tutupan hutan seluas 30.594 Ha akibat deforestasi dan alih fungsi kawasan hutan. Selain kehilangan tutupan hutan, aktivitas pertambangan di dalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan telah menyebabkan peningkatan lahan kritis 167.065 Ha pada tahun 2022.
Selain itu dari sebanyak 433 daerah aliran sungai (DAS), aktivitas pertambangan timah setidaknya dilakukan di 202 DAS dimana yang terluas terdapat di linggang kabupaten Belitung Timur (Beltim) seluas 13.140 Ha (data DIKPLHD 2021).
Bencana Ekologis
Kerusakan lanskap daratan Babel, mendorong terjadinya sejumlah bencana alam mulai dari kekeringan, longsor, hingga banjir. Diantara itu, yang tidak terlupakan tentunya kejadian pada tahun 2015, dimana Pulau Bangka mengalami kemarau panjang hingga lima bulan (Juni – Oktober).
Setahun kemudian, 2016, banjir besar menerpa hampir seluruh wilayah di Babel berimbas dan berdampak pada akses jalan lintas kabupaten terputus, air merendam ratusan bahkan ribuan rumah masyarakat.
Hingga saat ini, peristiwa bencana terus menghantui Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini didukung juga oleh analisis BPBD di tahun 2020, terkait potensi bahaya yang terjadi di Babel. Dari 11 ancaman, bencana tanah longsor, banjir serta kekeringan, masuk dalam kategori resiko tinggi. Pada tahun 2023, BPBD mencatat ada 1.084 bencana terjadi di Babel.
“Semuanya diperparah dengan krisis iklim yang semakin dirasakan oleh seluruh masyarakat global. Khusus di Bangka Belitung, proses eksploitasi di daratan terutama pertambangan timah telah melebihi daya dukung lingkungan, sehingga menyebabkan bencana serta laju degradasi lingkungan dalam angka yang mengkhawatirkan,” kata Hafiz di Pangkalpinang, Sabtu (4/1/2025).
Tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, aktivitas penambangan timah juga terus memakan korban. Walhi Babel mencatat sepanjang 2021-2024, ada 32 orang meninggal dunia akibat kecelakaan tambang, dan 23 orang mengalami luka-luka.
Selain itu, ribuan lubang tambang yang belum di reklamasi terus memakan korban. Sepanjang tahun 2021- 2024, tercatat ada 30 kasus tenggelam di kolong.
Dari 22 korban yang meninggal dunia, 17 diantaranya merupakan anak-anak hingga remaja dengan rentang usia 7-20 tahun.






